Zaman keemasan (golden ages)
peradaban Islam --abad ke-7 sampai 15--
tidak hanya melahirkan ulama-ulama
atau generasi yang mumpuni di bidang
keagamaan. Era itu juga banyak
melahirkan para ilmuwan di berbagai bidang. Mereka banyak menemukan
teori-teori baru dan membuat berbagai
macam peralatan atau temuan-temuan
yang kelak mempunyai arti penting
dalam sejarah peradaban dunia.
Termasuk di antaranya temuan-temuan di bidang matematika. Para pakar
matematika Muslim telah
memberi kontribusi nyata dan
menemukan berbagai macam teori di
bidang matematika seperti yang kita
kenal sekarang. Misalnya, mereka
menemukan sistem bilangan desimal, sistem operasi dalam matematika seperti
penjumlahan, pengurangan, perkalian,
pembagian, eksponensial, dan penarikan
akar. Tak cuma itu, mereka juga
memperkenalkan angka-angka dan
lambang bilangan, termasuk angka "nol" (zero). Mereka antara lain juga
menemukan bilangan phi (?), persamaan
kuadrat, algoritma, fungsi sinus, cosinus,
tangen, cotangen, dan lain-lain. Pakar
matematika Muslim itu antara lain: Al-
Khawarizmi, Al-Kindi, Al-Karaji, Al- Battani, Al-Biruni, dan Umar
Khayyam. Salah satu ilmuwan Muslim yang
memberikan sumbangan besar dalam
pengembangan matematika adalah
Muhammad bin Musa al-Khawarizmi.
Pakar matematika yang lebih dikenal
dengan sebutan Al-Khawarizmi ini hidup pada tahun 780 hingga 850 Masehi. Di
kalangan masyarakat Barat, Al-
Khawarizmi lebih dikenal dengan nama
Algorisme atau Algoritme. Ia telah
banyak menemukan teori-teori dalam
matematika. Al-Khawarizmi juga populer dengan
sebutan Bapak Aljabar. Aljabar diambil
dari namanya. Teori-teori Aljabar ia tulis
dalam kitabnya yang bertajuk "Hisab
Al-Jabr wal Muqabalah" atau buku
tentang penghitungan, restorasi dan pengurangan. Teori 'algoritme' dalam
matematika modern diambil dari
namanya, karena dialah yang pertama
kali mengembangkannya. Al-Khawarizmi mengaku menulis buku
tentang aljabar untuk menyediakan
kebutuhan praktis bagi orang-orang yang
berurusan dengan harta peninggalan,
warisan, pembagian, perkara hukum,
dan perdagangan. Selain Aljabar dan algoritma, karya Al-
Khawarizmi lainnya misalnya persamaan
kuadrat dan fungsi sinus. Al-Khawarizmi diperkirakan lahir sekitar
tahun 780 Masehi di Kota Kath, di sebuah
lembah Khorzen. Kota Kath kini telah
lenyap karena terkubur pasir. Jejak-jejak Al-Khawarizmi antara lain
ditemukan di Kampus Universitas
Cambridge. Pada tahun 1857 di
perpustakaan Universitas Cambridge
ditemukan teks atau naskah aritmatika
karya seorang Muslim dalam terjemahan bahasa Latin bertajuk 'Algoritimi de
Numero Indorum'. Naskah ini diawali
dengan kalimat, "Telah berkata
Algoritimi. Marilah kita haturkan pujian
kepada Tuhan, Pemimpin dan Pelindung
kita." Naskah ini diyakini sebagai salinan dari
naskah aritmatika Al-Khawarizmi yang
telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Latin pada abad ke-12 oleh dua sarjana
Inggris yaitu Gerard dari Cremona dan
Roberts dari Chester. Hasil terjemahan ini digunakan oleh para ahli
matematika di
seluruh dunia sampai abad ke-16. Al-Khawarizmi, penemu beberapa
cabang dan konsep dasar dalam
matematika ini, juga dikenal sebagai
seorang astronom dan ahli geografi.
Sebagai seorang astronom, dia dipanggil
ke Bagdad oleh Khalifah Al-Makmun dan diangkat memimpin para pakar
astronomi di istana. Selain Al-Khawarizmi, matematikawan
Islam yang lain adalah Al-Kindi (801-873).
Nama lengkapnya adalah Abu Yusuf
Yaqub Ibn Ishaq Al-Kindi. Ia dilahirkan
sekitar tahun 801 di Kufa, Irak, saat
ayahnya berkuasa di wilayah itu. Nama panggilan Al-Kindi menunjukkan
keturunan dalam kerajaan Kindah dari
keturunan Yemenite. Al-Kindi telah menulis sebelas kitab
tentang bilangan dan analisis numerik. Itu
antara lain kontribusinya di bidang
aritmatika. Namun, Al-Kindi lebih dikenal
sebagai seorang filsuf pertama di dunia
Islam. Irak juga melahirkan Abu Bakr Ibn
Hussein atau yang lebih dikenal dengan
nama Al-Karaji. Penulis kitab bertajuk Al-
Kafi fi Al-Hisab (Pokok-pokok Aritmatika)
ini lahir di Kharkh, sebuah daerah sub-
urban di Bagdad. Dalam buku ini Al-Karaji menerangkan tentang seluk-beluk
penghitungan. Al-Karaji juga menulis kitab Al-
Fakhri.Karyanya meliputi aritmatika,
aljabar, dan geometri. Zaman keemasan Islam juga melahirkan
pakar-pakar di bidang trigonometri.
Mereka antara lain adalah Al-Battani
(850-929), Al-Biruni (973-1050), dan Umar
Khayyam. Al-Battani atau Muhammad Ibn
Jabir Ibn Sinan Abu Abdullah dikenal sebagai bapak trigonometri. Ia lahir di
Battan, Mesopotamia, dan meninggal di
Damaskus pada tahun 929. Al-Battani
adalah tokoh bangsa Arab dan gubernur
Syria. Dia merupakan astronom Muslim
terbesar dan ahli matematika ternama. Al-Battani melahirkan trigonometri untuk
level lebih tinggi dan orang pertama yang
menyusun tabel cotangen. Sedangkan Al-
Biruni adalah peletak dasar-dasar
trigonometri modern. Dia seorang filsuf,
ahli geografi, astronom, ahli fisika, dan pakar matematika. Enam ratus tahun
sebelum Galgeo, Al-Biruni telah
membahas teori-teori perputaran (rotasi)
bumi pada porosnya. Al-Biruni juga memperkenalkan
pengukuran-pengujuran geodesi dan
menentukan keliling bumi dengan cara
yeng lebih akurat. Dengan bantuan
matematika, dia dapat menentukan arah
kiblat dari berbagai macam tempat di dunia. Selain itu, tokoh
matematika lain yang tak
kalah terkenal adalah Umar Khayyam.
Kendati ia lebih dikenal sebagai seorang
penyair, namun Umar Khayyam memiliki
kontribusi besar dalam bidang
matematika, terutama dalam bidang aljabar dan trigonometri. Ia merupakan
matematikawan pertama yang
menemukan metode umum penguraian
akar-akar bilangan tingkat tinggi dalam
aljabar, dan memperkenalkan solusi
persamaan kubus. Dalam bidang trigonometri, teori-teori
dari fungsi; sinus, cosinus, dan tangen,
telah dikembangkan oleh para ilmuwan
Muslim pada abad ke-10. Para ilmuwan
Muslim telah bekerja dengan teliti dalam
pengembangantrigonometri bidang datar dan ruang. Mereka mengembangkan
teori trigonometri berdasarkan pada teori
Ptolemeus. Namun, karya mereka lebih
diakui karena dua alasan: pertama, teori
mereka memakai sinus
sedangkanPtolemeus menggunakan tali atau penghubung dua titik di lingkaran
(chord). Kedua, teori trigonometri para
matematikawan Muslim itu
menggunakan bentuk aljabar sebagai
pengganti bentuk geometris.
SLAM KEINDAHAN ACEH,SLAM PERSHABATAN KTA.
Buih Malaka
Kamis, 19 April 2012
Langganan:
Entri (Atom)
Daftar Isi Blog
-
▼
2012
(8)
- ► 02/12 - 02/19 (4)
-
►
2011
(30)
- ► 12/18 - 12/25 (6)
- ► 09/04 - 09/11 (10)
- ► 04/10 - 04/17 (3)
-
►
2010
(105)
- ► 12/12 - 12/19 (8)
- ► 12/05 - 12/12 (4)
- ► 11/28 - 12/05 (8)
- ► 11/21 - 11/28 (3)
- ► 11/14 - 11/21 (7)
- ► 11/07 - 11/14 (2)
- ► 10/31 - 11/07 (3)
- ► 10/24 - 10/31 (4)
- ► 10/17 - 10/24 (16)
- ► 10/10 - 10/17 (4)
- ► 10/03 - 10/10 (6)
- ► 09/26 - 10/03 (3)
- ► 04/04 - 04/11 (6)
- ► 03/28 - 04/04 (4)
- ► 03/14 - 03/21 (1)
- ► 02/28 - 03/07 (1)
- ► 02/21 - 02/28 (4)
- ► 02/14 - 02/21 (3)
- ► 02/07 - 02/14 (2)
- ► 01/31 - 02/07 (4)
- ► 01/24 - 01/31 (3)
- ► 01/10 - 01/17 (8)
-
►
2009
(1)
- ► 12/13 - 12/20 (1)